Pelatihan Pembuatan Sabun Cuci Tangan dengan Memanfaatkan Limbah Kulit Rambutan

Perilaku mencuci tangan pakai sabun merupakan komponen penting untuk memutus mata rantai penyebaran dan penularan virus dan bakteri. Namun, semakin tingginya pemakaian sabun berbahan kimia maka akan semakin tinggi pula potensi pencemaran air akibat sisa pembuangannya. Penggunaan sabun cuci tangan ramah lingkungan menjadi solusi untuk menggantikan penggunaan sabun berbahan kimia. Pemanfaatan bahan aktif yang bersifat alami dapat menjadi alternatif dalam penggunaan sabun ramah lingkungan. Cibuyur memiliki potensi yang besar dalam menciptakan bahan aktif alami tersebut. Hal ini dikarenakan melimpahnya perkebunan seperti pohon rambutan yang dimiliki warga sekitar.

Oleh karena itu mahasiswi bernama Noely Patricia Rajagukguk dari program studi teknik kimia men-sosialisasikan dan mem-praktekkan kepada masyarakat tentang cara pembuatan sabun cuci tangan dengan memanfaatkan limbah kulit rambutan. Hal ini menjadi bentuk kita memanfaatkan limbah yang berlebih dan bentuk kita mencintai lingkungan kita. Metode pelaksanaan kegiatan pembuatan sabun cuci tangan ini adalah praktek secara langsung di depan masyarakat. Kegiatan penyuluhan diawali dengan persiapan materi terkait potensi yang dimiliki Desa Cibuyur dan informasi mengenai dampak penggunaan sabun cuci tangan bagi kesehatan kulit dan lingkungan, kemudian dilanjutkan dengan praktek langsung pembuatan sabun cuci tangan sampai produk setengah jadi. Hal ini dikarenakan adanya proses menunggu campuran selama 12 jam.

Bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat sabun cuci tangan ini antara lain kulit buah rambutan atau kulit buah-buahan lainnya, Metil Ester Sulfonat (MES), garam, foambooster, dan pewangi (opsional). Metil Ester Sulfonat (MES) merupakan alternatif surfaktan yang terbuat dari minyak kelapa, minyak sawit, minyak kedelai, lemak tallow serta minyak inti sawit. Kemudian sedikit garam digunakan sebagai pengental campuran MES yang akan menjadi sabun cuci tangan. Foambooster, seperti namanya bertujuan untuk menimbulkan busa lebih banyak yang dapat membuat kulit menjadi lebih kesat dan terasa bersihnya.  Pewangi digunakan secara oposional jika masyarakat ingin hasil akhir produknya menjadi lebih wangi. Sabun cuci tangan termodifikasi ekstrak kulit rambutan yang dihasilkan memiliki tekstur agak kental, berwarna oranye kecoklatan, beraroma segar dan memiliki busa serta daya pembersih yang baik.

Di akhir acara sosialisasi dan praktek pembuatan, masyarakat diberikan kesempatan untuk berdiskusi tanya-jawab sembari saudari Noely memberikan produk jadi yang telah dibuat sebelumnya. Berikut merupakan gambar yang diambil selama kegiatan sosialisasi dan praktek berlangsung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *